Selasa, 06 November 2007

Racun kalajengking

Racun kalajengking ternyata dapat dipakai sebagai pembersih tumor. Para peneliti menggunakan bahan sintetisnya sebagai pembawa yodium yang bersifat radioaktif ke sel-sel tumor otak yang masih tertinggal setelah pembedahan.
Sejauh ini teknik ini telah diuji pada 18 pasien dan percobaan medis masih terus dilakukan, hasilnya sementara menunjukkan bahwa peruses pengobatan ini dapat diterima tubuh dan efektif.
analisis menunjukkan bahwa sifat radio aktif akan hilang secara keseluruhan setelah 24 jam zat disuntikkan. radiasi tersebut juga bekerja disekitar luka operasi saja sehingga tidak merusak sel-sel otak yang sehat.
BISA dan racun tak selamanya berbahaya. Mekanisme kerja bisa dan racun bisa dimanfaatkan untuk kepentingan pengobatan. Di antaranya untuk penghilang rasa sakit, pengencer darah, pereda ketegangan otot, antikanker, antimikroba, antikejang bahkan diteliti untuk anti-HIV.
Pemanfaatan bisa dan racun itu dipaparkan oleh Prof P Gopalakrishnakone PhD DSc dari Fakultas Kedokteran National University of Singapore dalam the 2nd National Symposium "The Recent Advances in Critical Care Management of Trauma Cases" yang diselenggarakan Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto, Sabtu (19/7).
Sejumlah obat telah dihasilkan dari racun alami. Racun botulinum dari bakteri anaerobik yang mencemari makanan kaleng kini dimanfaatkan untuk terapi strabismus (mata juling), blepharospasm (kejang kelopak mata), dan vagisnismus (kekejangan otot vagina). Arvin dari racun ular berbisa Malaysia digunakan untuk mengatasi gangguan penggumpalan darah.
Tahun 1998 saja, Badan Pengawas Makanan dan Obat AS (FDA) mengkaji dan menyetujui peredaran empat obat berbahan dasar racun, baik bisa ular, kalajengking maupun kerang kerucut, yaitu Aggrostatin untuk mengobati angina, Captopril untuk tekanan darah tinggi, Conotoxin untuk anestesi saraf tulang belakang, serta Chlorotoxin untuk pengobatan tumor otak.
Menurut Gopalakrishnakone yang menjadi koordinator dan peneliti utama pemanfaatan bisa dan racun (Venom and Toxin Research Programme/VTRG), penelitian yang dimulai tahun 1985 itu melibatkan pelbagai disiplin ilmu di NUS, pemerintah Singapura maupun lembaga dari Cina, Vietnam, Jepang, Thailand, Perancis, Inggris, Israel, dan AS.
Fokus penelitian adalah mempelajari mekanisme sekresi bisa serta struktur kelenjar penghasil bisa pada hewan seperti ular, kalajengking, stonefish, ubur-ubur, laba-laba, kemudian mengisolasi, memurnikan serta meneliti sifat racunnya. "Racun yang bersifat racun saraf, racun otot, racun jantung dan pembuluh darah, serta aktivitas antipenggumpalan darah diteliti untuk mendapatkan molekul yang potensial untuk dikembangkan sebagai obat," ujar Gopalakrishnakone.
Sejauh ini VTRG telah meneliti 23 jenis racun baru. Antara lain hannalgesin dari Ophiophagus hannah (King Cobra). Bisa kobra yang mempunyai sifat menghilangkan rasa sakit telah dibuat sintetiknya dan dipatenkan. Demikian pula acidic PLA2 dari kobra yang bersifat antipenggumpalan darah.
Zat lain, yaitu myotoxic PLA2 dari Pseudechis australis (ular coklat dari Australia) yang bermanfaat bagi otot dan ginjal. Juga racun dari kalajengking merah cina (Buthus martensi), yaitu makatoxin, chibutoxin, dan bukatoxin; racun kalajengking hitam (Heterometrus sps), yaitu hefutoxin; racun laba-laba tarantula singapura (Coremiocnemius validus); racun kerang kerucut (Conus marmoreus); serta racun dari sejenis ular dari Papua (Miropechis ikaheka). (atk)

Tidak ada komentar: